Langsung ke konten utama

Malam Produktif, Sebuah Proyek

Proyek yang terlintas di otak kami berdua memang suka random dan memang hal-hal simpel tapi tetap bisa sesuai konten dalam aturan game level 3 ini :') Maka tercetuslah proyek produktif malam hari yaitu melakukan hal produktif bersama di malam hari.

Latar Belakangnya adalah setelah menjadi karyawan, saya dan ranti merasa godaan untuk leyeh-leyeh pulang kantor itu begitu kuat, jadi sudah dapat dipastikan mungkin 70% kegiatan kita pulang kantor hanya leyeh-leyeh tanpa melakukan kegiatan yang produktif.

Dalam rangka mempersiapkan ranti yang akan menikah (ini jadi alasan terkuat juga kenapa akhirnya ku memilih ranti sebagai partner di game level ini ♥️) jadi malam-malam kita ngga boleh leyeh-leyeh lagi haha.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

19 Hari Lagi

Ya ampun ini blog jadi agak random wk maapin ((ya biarin aja lah ya)) Jiwa-jiwa fangirling bergejolak. Currently watching : Jadi ingin ke New York terus ga sengaja papasan sama artez korea. Thanks

Dokter dan Bahasa Awam

Halo, saya fina. hobi : pergi ke dokter. Sering banget loh pergi ke dokter, dan emang tingkat kepercayaanku sama dokter cukup tinggi, saya selalu percaya mereka lah perantara dari Allah untuk menyembuhkan kita -ya walaupun sebelumnya pasti kita akan melakukan self medication dulu, kalo nggak sembuh baru ke dokter-. setiap pergi ke dokter juga mayan excited, karena saya tau mereka pinter, dan yeah soon to be teman sejawat :)  Tapi, kemaren banget nih. pergi ke dokter di salah satu rumah sakit, dokter spesialis Gastrointestinal. Cerita detailnya panjang -ga juga sih-, tapi intinya : F : "Dok, kalau masuk angin gitu bagusnya sebenernya dikasih apa ya?" D : "Hmm saya sih nggak pernah tau istilah masuk angin ya, soalnya di buku-buku kedokteran juga nggak ada yang namanya masuk angin" terus langsung syok mayan sih, ceritanya kan saya orang awam dok,mana saya tau masuk angin di buku kedokteran apa? ya maksudnya kira-kira penyakit apa sih yang mungkin mun...

3 Hari Lagi

Aku sadar banget bahwa aku lebih memilih buat menulis daripada bicara. Mungkin seringkali karna ngga siap mendengar jawabannya kalau harus berbicara, kalau menulis kan banyak cara untuk "kabur" sebelum benar-benar siap membaca balasannya.