Langsung ke konten utama

Ayah

Nak, Sebelum Kamu Hidup Bersama Putriku di Masa Depan, maukah kamu membaca pesanku ini?

jadi keinget pertama kalinya liat Ayah nangis itu waktu acara lamaran kakak dea 2 tahun lalu. Ayah yang selalu jadi sosok yang sabar nya tiada akhir, sosok yang kuat, sosok yang selalu ingin memberikan semua hal buat anak-anaknya, sosok yang pemaaf, sosok yang ramah, sosok yang sempurna. ayah yang menunjukkan kasih sayangnya secara implisit dengan rutin menanyakan kabar teman dekatku, ayah yang senang memberi wejangan, ayah yang senang memberi nasihat, ah ayah :') jadi kangen...........

dan dari awal masuk kuliah sampai tingkat akhir, udah niat banget, gelar sarjana dan apoteker nanti didedikasikan sepenuhnya buat ayah sama bunda yang kasih sayangnya sepanjang masa..

*jadi pengen pulang*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

19 Hari Lagi

Ya ampun ini blog jadi agak random wk maapin ((ya biarin aja lah ya)) Jiwa-jiwa fangirling bergejolak. Currently watching : Jadi ingin ke New York terus ga sengaja papasan sama artez korea. Thanks

Dokter dan Bahasa Awam

Halo, saya fina. hobi : pergi ke dokter. Sering banget loh pergi ke dokter, dan emang tingkat kepercayaanku sama dokter cukup tinggi, saya selalu percaya mereka lah perantara dari Allah untuk menyembuhkan kita -ya walaupun sebelumnya pasti kita akan melakukan self medication dulu, kalo nggak sembuh baru ke dokter-. setiap pergi ke dokter juga mayan excited, karena saya tau mereka pinter, dan yeah soon to be teman sejawat :)  Tapi, kemaren banget nih. pergi ke dokter di salah satu rumah sakit, dokter spesialis Gastrointestinal. Cerita detailnya panjang -ga juga sih-, tapi intinya : F : "Dok, kalau masuk angin gitu bagusnya sebenernya dikasih apa ya?" D : "Hmm saya sih nggak pernah tau istilah masuk angin ya, soalnya di buku-buku kedokteran juga nggak ada yang namanya masuk angin" terus langsung syok mayan sih, ceritanya kan saya orang awam dok,mana saya tau masuk angin di buku kedokteran apa? ya maksudnya kira-kira penyakit apa sih yang mungkin mun...

3 Hari Lagi

Aku sadar banget bahwa aku lebih memilih buat menulis daripada bicara. Mungkin seringkali karna ngga siap mendengar jawabannya kalau harus berbicara, kalau menulis kan banyak cara untuk "kabur" sebelum benar-benar siap membaca balasannya.